Senin, 04 Februari 2013

Tugas Manusia


Manusia dan Tugas-Tugas Kekhalifahannya
Manusia diciptakan dengan dua fungsi, yang keduanya harus dapat terlaksana dengan baik, tanpa ada salah satu yang terlupakan. Fungsi pertama adalah sebagai ‘abdullah (sebagai hamba Allah), dan fungsi yang kedua adalah sebagai Khalifah fi al-ard. Sebagai hamba Allah maka ia harus selalu patuh dan taat atas segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkan sebagai khalifah, dia harus berusaha untuk mengolah dan membudidayakan bumi ini untuk kesejahteraan umat dan memelihara serta menjaga kelestariannya.
 Allah SWT berfirman:
وهوالذى جعلكم خلآئف الارض (الأنعم:165)
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi”.[1]

Untuk melaksanakan tugasnya sebagai khalifah fi al-ard, maka ia harus memiliki pengetahuan berkaitan dengan tugasnya itu. Untuk itulah manusia diciptakan dilengkapi dengan akal dan kemampuan untuk berfikir, dengan demikian ia dapat menjadi wakil Allah di muka bumi, dengan bekal akal yang dapat di gunakan untuk mengetahui bentuk dan sifat berbagai ciptaan Allah di muka bumi.
Sebagai seorang hamba, manusia harus melaksanakan tugas penghambaan diri kepada Allah SWT, dalam keadaan bagaimanapun dan di manapun. Ia harus senantiasa beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan hanya mengharapkan rida Allah. Ia harus selalu menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya, sebagai wujud syukur kepada-Nya atas nikmat yang telah diberikan.
Di dalam Al-Qur’an S. Ad-Dzariat ayat 56 disebutkan “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah Ku”.[2] Ayat ini menjelaskan mengenai tujuan utama diciptakannya jin dan manusia, yaitu untuk menyembah dan beribadah kepada Allah SWT sebagai Khalik. Tujuan tersebut juga mengandung arti bahwa manusia harus senantiasa taat dan patuh kepada segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Ini merupakan tugas manusia sebagai seorang hamba.
Kemudian dalam penciptaan manusia sebagai makhluk yang sempurna yaitu dengan dikaruniai akal dan kecerdasan, itu berkaitan dengan fungsi manusia yang kedua yaitu sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai khalifah di muka bumi berarti sebagai wakil Allah di bumi. Allah yang telah menciptakan bumi dan segala isinya, maka sebagai wakil Allah tugas manuisalah untuk menjaganya.
Sebagai khalifah manusia diperintahkan untuk menjaga kelestarian dan bukan melakukan kerusakan di muka bumi. Pengangkatan manusia sebagai khalifah ini difirmankan Allah dalam al-Qur’an S. Al-Baqarah ayat 30.
واذ قال ربك للملئكة انى جاعل فى الارض خليفة قالوا اتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدماء ج   و نحن نسبح بحمدك و نقدسلك قلى قال انى اعلم ما لا تعلمون
Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:” Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata:” mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engaku dan mensucikan Engkau?” Tuhaan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.[3]
Khalifah dalam ayat di atas dapat di artikan sebagai penguasa, artinya Allah menjadikan manusia sebagai penguasa di bumi. Penguasa dalam hal ini adalah mereka yang berhak memanfaatkan dan membuat tatanan kehidupan di muka bumi dan bertanggung jawab atas kesejahteraan dan kelestarian alam semesta.
Manusia diciptakan sebagai khalifah adalah sebagai wakil Allah di muka bumi, Allah yang telah menciptakan alam semesta ini dengan segala isinya dan manusia sebagai khalifah bertugas untuk melestarikan dan menjaganya dari kerusakan. Manusia berhak untuk menggali manfaat yang terkandung di alam ini dan menggunakannya untuk kesejahteraan penghuni alam semesta ini.
Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi berarti memberi peluang kepada manusia untuk dapat mensyukuri segala nikmat dan karunia-Nya. Bersyukur kepada Allah atas karunia yang telah diberikan berupa alam dan segala isinya ini, yaitu dengan cara memelihara lingkungan hidupnya agar bumi menjadi tempat yang patut, layak dan menyenangkan bagi kehidupan semua makhluk ciptaan-Nya. 
Sebagai seorang khalifah manusia bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan dan kemaslahatan makhluk-makhluk Allah yang lain di bumi, baik yang bernyawa maupun tidak. Dengan demikian manusia memerlukan ilmu pengetahuan dan pemahaman mengenai karakteristik alam yang menjadi tanggung jawabnya tersebut.
Sebagai penguasa yang mewakili Allah di muka bumi, manusia bertanggung jawab atas kelestarian alam semesta ini. Seorang khalifah haruslah dapat besikap arif dan bijaksana terhadap apa yang menjadi hak dan tanggung jawabnya. Dia tidak boleh berbuat semaunya atau semena-mena terhadap alam semesta ini. Jika dia berbuat semena-mena maka dia termasuk seorang penguasa yang zalim, dan Allah sangat membenci seorang yang berbuat zalim. 
Untuk dapat menjalankan tugas kekhalifahannya dengan baik, manusia memerlukan ilmu pengetahuan alam untuk memanfaatkan alam dan menjaga kelestarianya. Fisika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan alam yang sangat penting untuk dipelajari, karena mengkaji gejala-gejala alam dan karakteristik benda-benda alam.
Penguasaan terhadap Fisika menjadi sangat penting ketika manusia akan menjalankan tugas kekhalifahannya di muka bumi. Karena sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa manusialah yang bertanggung jawab atas kemaslahatan dan kelestarian alam ini. Untuk itu manusia harus benar-benar mamahami karakteristik alam yang menjadi tanggung jawabnya itu.
Ilmu pengetahuan atau sains dan teknologi yang membantu penemuan, perkembangan dan pemeliharaan baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam,[4] merupakan alat bagi manusia untuk melaksanakan tugas kekhalifahannya.
Pengembangan iptek adalah satu contoh dari kesempurnaan makhluk Tuhan yang bernama manusia.[5] Dengan menggunakan akal pikiran yang telah dianugerahkan kepadanya, menyebabkan manusia mampu untuk mengembangkan iptek. Dengan demikian manusia dapat menjalankan fungsi kekhalifahannya di muka bumi secara produktif dan matang.


[1] Al-Qur’an Terjemah, (Semarang : Toha Putra, 1998), hal.286
[2] Al-Qur’an Terjemah, (Semarang : Toha Putra, 1998), hal.1058
[3] Ibid., hal.11
[4] Abdul Majid (dkk), Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunah Tentang Iptek,(Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hal.79
[5] M, Daud Ibrahim, Teknologi Emansipasi dan transendensi,(Bandung: Mizan, 1994), hlm.34

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar